| A. Spesifikasi | |
|---|---|
| Satuan Pendidikan | MADRASAH ALIYAH NEGERI 5 BANJAR |
| Mata Pelajaran | Akidah Akhlak |
| Fase / Kelas / Semester | F / XII / Genap |
| Topik Pembelajaran | Menghindari Bahaya Fitnah di Era Digital |
| Alokasi Waktu | 2 JP |
| B. Identifikasi | |
|---|---|
| Asesmen Awal | Gunakan pertanyaan reflektif untuk memancing kejujuran batin: Pertanyaan: "Pernahkah kamu mendengar cerita buruk tentang temanmu yang belum tentu benar? Apa yang kamu lakukan saat itu: Ikut mendengarkan, langsung percaya, atau mencoba menghentikannya?" Tujuan: Mengukur kecenderungan perilaku siswa terhadap rumor (bibit fitnah). |
| Dimensi Profil Lulusan | Keimanan dan Ketakwaan, penalaran kritis, Kolaborasi, Komunikasi |
| Topik Panca Cinta | Cinta Allah dan Rasul-Nya, Cinta Ilmu, Cinta Diri dan Sesama Manusia |
| Materi Integrasi KBC | Materi Pembelajaran Pengertian: Fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa dasar dengan maksud menjelekkan orang lain. Dalil: QS. Al-Baqarah: 191 ("...dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan"). Bentuk Fitnah Modern: Penyebaran hoaks, cyberbullying, dan pembunuhan karakter di media sosial. Solusi: Teknik Tabayyun |
| C. Desain Pembelajaran | |
|---|---|
| Tujuan Pembelajaran | Tujuan Pembelajaran (Capaian) Setelah mengikuti pembelajaran ini, siswa diharapkan mampu: Menjelaskan definisi fitnah berdasarkan dalil Naqli (Al-Qur'an/Hadist). Mengidentifikasi perbedaan antara kritik, fakta, dan fitnah. Menganalisis dampak negatif fitnah bagi diri sendiri dan masyarakat. Menerapkan perilaku Tabayyun (klarifikasi) dalam menerima informasi. |
| Kerangka Pembelajaran |
Model: PBL
Metode: Case-Based Learning (Studi Kasus) & Diskusi Kelompok. Kemitraan: Guru dan teman Lingkungan: Kelas dan lingkungan luar kelas Pemanfaatan Digital: Video pendek tentang penyebaran berita bohong, Slide presentasi, atau potongan berita viral. |
| D. Pengalaman Belajar | |
|---|---|
| Kegiatan Awal | Guru memulai dengan cerita singkat/pemantik tentang seseorang yang reputasinya hancur karena satu komentar bohong. |
| Kegiatan Inti |
1. Memahami
Sintak: Orientasi Masalah
Siswa membaca dalil tentang fitnah dan mendiskusikan mengapa fitnah disebut lebih kejam dari pembunuhan. 2. Mengaplikasikan
Sintak: Mengorganisasi Belajar
Kerja Kelompok: Siswa diberikan 3 skenario berita viral (1 fakta, 1 opini, 1 fitnah). Mereka harus memilah mana yang termasuk fitnah. Sintak: Membimbing Penyelidikan
Setiap kelompok memaparkan hasil analisisnya dan cara melakukan Tabayyun terhadap berita tersebut. Sintak: Mengembangkan & Menyajikan Hasil
Role Play (Sosiodrama) Singkat: Siswa memperagakan skenario terjadinya fitnah di media sosial dan bagaimana cara melakukan Tabayyun (klarifikasi) untuk menghentikannya. Infografis "Anti-Fitnah": Membuat poster digital atau manual yang berisi: Definisi singkat. Bahaya fitnah (berdasarkan hasil diskusi). Langkah-langkah cek fakta (Tips Tabayyun). 3. Merefleksi
Sintak: Analisis & Evaluasi
Identifikasi Pola: "Dari semua skenario fitnah yang kalian diskusikan, apa pola yang paling sering muncul? Apakah karena kebencian, atau sekadar ikut-ikutan (fomo)?" Analisis Kendala: "Bagian mana yang paling sulit dibedakan antara fakta, ghibah, dan fitnah?" Catatan Guru: Tekankan bahwa Ghibah adalah membicarakan kebenaran yang tidak disukai orangnya, sedangkan Fitnah adalah membicarakan kebohongan. Keduanya berbahaya, tapi fitnah memiliki daya rusak sosial yang lebih destruktif. |
| Kegiatan Penutup | Kesimpulan: Fitnah bukan hanya dosa lisan, melainkan senjata pemusnah massal bagi persaudaraan. Di era digital, ketelitian (Tabayyun) adalah perisai, dan diam adalah lebih baik daripada menyebarkan sesuatu yang belum tentu benar.Guru mengajak siswa membedah kembali proses berpikir mereka selama diskusi tadi. |
| E. Asesmen Pembelajaran | |
|---|---|
| Asesmen Proses | Sikap: Observasi kejujuran dan cara berkomunikasi saat diskusi. Pengetahuan: Tes tertulis/kuis singkat mengenai perbedaan fitnah dan ghibah. |
| Asesmen Akhir | Keterampilan: Membuat slogan atau poster digital "Stop Fitnah & Hoaks" untuk diunggah di status media sosial masing-masing. |